Sejarah dan Perkembangan Keramik Plered

  • Whatsapp
Sentra Pembuatan Keramik
Plered adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten

Purwakarta, Jawa Barat. Sejarah Plered tidak lepas dari sejarah
keramik dan perjuangannya. Wilayah Plered, Cirata, Gandasoli
dan Citalang termasuk kota atau desa yang tua di Kabupaten
Purwakarta. Sejarah Plered dan keramik sudah ada sejak jaman
Neolitikum. Pada jaman tersebut, sudah ada penduduk yang
berdatangan ke daerah Cirata menyusuri sungai Citarum.

Dari hasil penggalian di daerah Cirata ditemukan peninggalan
dari batu, kapak persegi, alat untuk menumbuk dan alu dari
batu, termasuk ditemukan belanga dan periuk dari tanah liat,
juga ditemukan adanya panjunan (anjun) tempat membuat keramik.

Asal muasal nama Plered mempunyai beragam versi: di antaranya
nama tersebut berasal dari masa tanam paksa ketika pada waktu
tersebut daerah ini menjadi tempat penanaman kopi yang hasilnya
diangkut menggunakan pedati-pedati kecil yang ditarik oleh
kerbau

(disebut Palered). Pedati pengangkut kopi tersebut dibuat dari
papan kayu baik roda mau pun pedatinya, sehingga kuat sekali
kalau melalui jalan berlumpur. Pengangkutan kopi tersebut
menuju Cikawao Bandung/Jatiluhur yang selanjutnya diangkut
menggunakan rakit ke Tanjung Priok menyusuri sungai Citarum.

Perkembangan Kerajinan Keramik Plered

Keramik sebagai bentuk kerajinan sudah nampak pada jaman
kolonial Belanda, mulai tahun 1795 yang pada saat itu di
sekitar Citalang ada lio-lio (tempat pembuatan genteng dan batu
bata). Sejak itulah rumah-rumah rakyat yang semula beratap
ijuk, sirap, daun kelapa atau alang-alang di sekitar Plered dan
di Kabupaten Karawang mulai diganti dengan atap genteng bahkan
di sekitar Anjun (Panjunan) sudah dimulai pembuatan
gerabah/tembikar. Mulai tahun 1935, produk gerabah yang
diglasir di Plered menjadi industri rumah tangga. Pada tahun
tersebut, terdapat perusahaan Belanda yang membuka pabrik
glasir bernama Hendrik De Boa di Warung Kondang, Plered.

Pada jaman kolonial Jepang, kerajinan keramik mengalami
kemunduran akibat penduduknya harus bekerja sebagai romusha,
utamanya di sekitar kaki Gunung Cupu dan Ciganea. Sedangkan
pabrik De Boa dikuasai dan diganti namanya menjadi Toki Kojo.
Kendati demikian perusahaan tersebut tetap berjalan.

Pada masa kemerdekaan, produksi gerabah dan keramik di Plered
nyaris terhenti sama sekali karena keterlibatan penduduk dalam
gerakan perjuangan. Setelah penyerahan kedaulatan tanggal 29
Desember 1949, keadaan di Plered berangsur baik, sehingga
produksi gerabah dan keramik mulai bangkit kembali ditandai
dengan Bung Hatta membuka resmi Induk Keramik yang gedungnya
dekat Gonggo pada 1950. Pada masa itu mesin-mesin didatangkan
dari Jerman lantas mencapai masa kejayaannya karena
produktivitasnya relatif tinggi. Di samping itu Induk Keramik
berjasa dalam membimbing industri rumah tangga hingga
berkembang pesat.

Saat ini seiring dengan perkembangan jaman dan pergeseran
paradigma, tengah terjadi pembenahan dalam penerapan rekayasa
desain, teknologi dan manajemen yang dilakukan secara
koordinatif antara Kelompok Kerja Klaster Industri Kerajinan
Keramik Plered yang berada di bawah binaan Direktorat Jenderal
Industri Kecil dan Menengah, Departemen Perindustrian bekerja
sama dengan UPTD Litbang Keramik Plered sebagai instansi di
bawah Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal
Kabupaten Purwakarta didukung secara akademis oleh Tim HI-LINK
yang merupakan satgas kemitraan perguruan tinggi bagi
masyarakat pengrajin dari FSRD-Institut Teknologi Bandung.

Kondisi terkini adalah tercatat sekitar 264 unit usaha yang
mempekerjakan sekitar 3000 orang dengan nilai produksi berkisar
8,5 milyar rupiah. Produksinya diekspor ke berbagai negara di
antaranya : Jepang, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand,
Belanda, Kanada, Saudia Arabia, Amerika Serikat dan Amerika
Latin, Inggris, Spanyol, Italia dan berbagai negara mancanegara
lainnya.**

*) Apabila anda tertarik ingin mengetahui lebih lanjut tentang
keramik Plered dan bahkan ingin memesannya secara online,
silahkan klik www.keramik-plered.com

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *