Charly, Dewi Gita dan Kartika Putri terkesan, RapatParipurna di Purwakarta |

  • Whatsapp

(Purwakarta),-Terkesan kaku dan protokoler,itulah yang akan terbayang bila mendengar rapat paripurna,tetapi berbeda dengan purwakarta,kesan kaku dan protokeler tidak terlihat sama.sekali bahkan pembahasan terkesan.santai dan nyaman yang dibalut dengan lesehan. Rabu Malam (29/7) Purwakarta. Digelar di Pendopo Purwakarta,Tidak terlihat sama sekali kesan kaku,tapi suasana hangat yang terbagun di rapat tersebut,hal itu dibangun atas prakarsa Bupati Purwakarta H. Dedi Mulyadi,SH serta DPRD Purwakarta.

hal itu juga mendapatkan apresiasi dari para pengisi acara seperti Musisi Charly Van Houten, Dewi Gita hingga host Kartika Putri, ketiganya menuturkan bahwa selama ini, mereka membayangkan bahwa rapat paripurna terkesan kaku tetapi setelah melihat di Purwakarta sangatlah berbeda.

“beda sekali, selama ini kan terlihat kaku, bahkan terkesannya ekslusif, tapi disini sangat beda, setiap season diisi dengan kesenian dan itu sangatlah keren.”, ujar Dewi Gita.

Hal senada diungkapkan oleh Charly Van Houten, Vokalis Setia Band ini mengungkapkan perbedaan, bahkan dirinya melihat rapat tersebut sangat terbuka bahkan cair.
“biasanya tertutup, bahkan bisa dilihat banyak orang dan ini sangatlah istimewa cair sekali suasananya, rilex dan tidak boring.”, tuturnya.

sedangkan menurut Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi,SH., bahwa indonesia itu mempuyai karakter, kesan kaku bukanlah kesan bangsa indonesia.
“saat ini Indonesia terkesan kaku, padahal dalam sejarahnya tidak ada kekakuan dalam karakter bangsa ini, sehingga dibuatnya rapat paripurna seperti ini adalah untuk menunjukan karakter indonesia yang bersahaja dan cair.”, tuturnya.

Dalam paparannya, Bupati Purwakarta mengungkapkan bahwa Dalam pemaparannya masyarakat Purwakarta telah banyak berkorban terutama dikawasan Waduk Cirata, waduk Jatiluhur yang harus terisolir karena adanya pembagunan tersebut,sehingga dirinya meminta pihak – pihak untuk bisa memperhatikan mereka,karenan.rela terisolasi puluhan tahun demi bangsa dan negara.
” Ini sangat ironis, ketika Kota dan kabupaten lain bisa menikmati air dari Bendung Waduk Jatiluhur. Justru masyarakat saya tidak bisa menggunakan air waduk itu, bahkan mereka terisolir sehingga harus perhatian dari berbagai pihak, karena atas kerelaan mereka, semua bisa menikmati.”, tuturnya.

(Humas Setda Purwakarta).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *